“ pohon tadi adalah pohon yang ke -43 yang pernah Bapak tanam nak..” matanya menerawang,. Menembus pohon kecil yang baru ia pupuki tadi
“ dulu,,,, waktu bapak masih seusia kamu, kira-kira 40 tahun yang lalu, Bapak memang mempunyai hobi berkebun. Maklum.. di kampung Bapak , daerah Malang sana , setiap rumah pasti memilki kebun apel. Sampai akhirnya ketika pindah ke Jakarta , ditambah lagi karena desakan polusi dan udara panas di Jakarta , akhirnya Bapak meneruskan hobi tersebut. Pertama kali, Bapak minta izin pada ketua RT, untuk menanam pohon di perempatan jalan. Beliau setuju. Bapak pun terus merawat pohon tersebut. Tak terasa lima tahun berlalu, pohon tersebut menjadi besar dan rindang. Banyak sekali orang yang berteduh dibawahnya. Mulai dari anak jalanan, tukang-tukang dagangan, sampai mahasiswa dan orang-orang pulang kerja. Sejak itulah Bapak senang sekali, karena pohon yang bapak tanam bermanfaat untuk banyak orang. Bahkan bukan hanya manusia yang bisa menggunakan rindang pohon tersebut, tapi juga ketika bapak perhatikan, ada burung yang membuat sarangnya di atas pohon itu, serta capung dan kupu-kupu yang bermain-main….”
“ sejak itulah nak… setiap tahun berganti, bapak selalu menyempatkan menanam sebuah pohon ditempat-tempat strategis yang sering dilewati orang”
“ lho.. kenapa harus ketika tahun berganti Pak…?” tanyaku curiga
“ Kenapa ketika tahun berganti ya…??? Entahlah… bapak juga bingung Nak…” matanya menyipit sambil tersenyum.. “mungkin… sebagai salah satu wujud syukur bapak juga kepada Allah yang masih memberikan bapak usia…”
Syukur ? kata tersebut hampir tidak ada di kepalaku. Bahkan aku pun bingung apa yang harus disyukuri. Sampai tahun berganti hari ini, aku belum pandai bersyukur atas apa yang aku miliki.
“ lalu setelah bapak menanam… apa yang bapak lakukan? “ tanyaku lanjut
“ setiap tahun berganti.. setiap pohon baru Bapak tanam.. maka setiap itu pula tercipta semua harapan dan cita-cita baru…yang selalu tertulis dalam buku ini….” Pak Uban mengeluarkan sebuah buku saku usang dari kantong bajunya. Kemudian memperlihatkan tulisan terakhir yang baru kemarin ia tulis…
“ apa yang akan saya lakukan di usia senja ini…..”
Dibawahnya pun tertulis berderet rencana setahun kedepan. Salah satu yang tertulis disana adalah berkumpul dengan cucu. Beliau juga menceritakan alasan kenapa ingin sekali berkmpul dengan cucu-cucunya di Malang .
“ bagaimana dengan pohon-pohon sebelumnya yang pernah ditanam Pak ? dilupakan begitu saja ? “ kataku mengalihkan pembicaraan..
“ oh… ya ngga dong Nak,, “ pak Uban tersenyum, dan mengacak-ngacak rambutku.
“ justru.. pohon-pohon tersebutlah sebagai tempat bapak mengevaluasi diri nantinya. Setiap tahun berganti, maka Bapak pasti akan ke pohon–pohon tersebut. Mengevaluasi diri. Apa yang sudah bapak lakukan tahun-tahun kemarin ? setiap pohon… ada pelajaran dan hikmah yang selalu mengingatkan Bapak…” katanya tersenyum.
Merencanakan hidup… Mengevaluasi diri…. aku hampir tidak pernah melakukan hal tersebut sama sekali. Bahkan memasuki tahun 2007 ini pun, semua seperti hari-hari lainnya. Mengalir begitu saja. Lebih tepatnya hampir sia-sia. Hufh.. betapa malunya aku jika seandaninya Pak Uban tau kodisiku sebenarnya.
“kamu lihat pohon besar di ujung sana Nak…” Pak Uban menunjuk sebuah Pohon disamping kafe, “ itu Bapak tanam sekitar sepuluh tahun yang lalu… ketika pertama kali Bapak tinggal di kampus ini”. Ya, Pohon itu adalah tempat mahasiswa biasanya pada nge-riung untuk makan, atau sekedar ngadem di bawahnya.
“kemudian lihat pohon disana, terus yang itu… sebelahnya lagi…” Pak Uban terus bercerita tentang hobinya itu, dan kebahagiaan yang ia dapatkan ketika bisa memberikan manfaat kepada orang lain.
“ Nah… sekarang gantian kamu yang bercerita Nak,, Bapak siap mendengarkannya”
“ Kamu ada masalah nak.. barang kali Bapak bisa membantu…” aku menggeleng, tersenyum. Dan terdiam agak lama.
Matahari senja mulai menyapa, semilir angin ramah menyentuh wajah. Sungguh ini adalah suasana yang seharusnya bisa menyejukkan hati, namun ujian pagi tadi, ternyata masih memenuhi pikiran ini.
“ Pak.. “ aku angkat bicara. “ apa bapak pernah menanam sebuah pohon dan merawatnya, tetapi ternyata pohon itu tidak membuahkan hasil…anggaplah pohon itu ternyata mati.”
Pak Uban manggut-manggut dan tersenyum.
“ pasti pernah nak.. semua orang pasti pernah merasakan kegagalan…memang kenapa ?”
Aku terdiam agak lama, menunduk, dan menarik nafas panjang..
“ saya gagal Pak.. saya gagal ujian hari ini. Padahal ini adalah UAS. Seminggu kemarin saya sudah mengerahkan semua waktu dan energi saya, tapi ternyata pagi tadi… siapa sangka soalnya akan seperti itu. Entah kenapa… saya blank ga bisa mengisi apa-apa…” suaraku tersekat.. hampir menangis.
“ itulah sebabnya mengapa saya menjemur diri ini siang tadi. Saya benci Pak.. saya benci dengan diri saya yang teramat bodoh… !” pandanganku menunduk, tangan ini terkepal begitu kuat, dan tanpa terasa.. sebutir air mata jatuh tepat diatas pahaku.
“saya…..putus asa Pak….” lanjutku melemah…
“ Nak.. “ tangan Pak Uban merangkul pundakku, matanya seakan mencari tau tentang diriku
“ kamu yakin sudah sangat giat belajar saat itu…?” aku mengangguk yakin. Kemudian tertunduk kembali.
“ baiklah, bagus kalau begitu…karena esensi dari sebuah kemenangan itu.. bukan terletak pada hasilnya.. tapi pada prosesnya. Allah tau dan melihat bagaimana usaha kamu kemarin, ga usah khawatir,,,,” pak Uban memukul-mukul pundakku.
“ kegagalan merupakan niscaya dalam kehidupan ini. Coba sekali-kali kamu tanyakan pada orang sukses, kenapa mereka bisa sukses… itu karena mereka selalu bangkit dari kegagalan…Adakah orang sukses yang belum pernah gagal? “
“ karena ibaratnya seperti bola, agar bisa terlempar tinggi, maka harus dihantamkan sekuat mungkin ke bumi, iya kan …” aku mengangguk lemah, membenarkan.
“ karena itu Nak.. anggaplah kegagalan kamu hari ini adalah sebuah hantaman yang akan mengajakmu mencapai puncak nantinya.. maka janganlah lari dari semua ini…karena berarti kamu telah lari dari kesuksesan nanti…” tatapan mata pak Uban seakan meyakinkanku
“ kamu tau Nak… jika bapak mengikuti kata putus asa.. mungkin pohon di samping kafe itu tidak akan sebesar sekarang ini….dimana semua mahasiswa senang belajar dibawah rimbunnya..”
“ itu tandanya.. untuk hal yang sederhana pun -hanya untuk menanam sebuah pohon- butuh usaha dan kesabaran…”
“ apalagi untuk sebuah cita-cita besar seperti kamu Nak…”
“ semua butuh proses… maka janganlah pernah berhenti …”
“ karena kamu tidak akan pernah melihat masa depan..jika kamu tidak menanam hari ini…”
Aku menatap dalam mata Pak Uban.. semangat dan harapan ada didalamnya.Pak Uban mengangguk, meyakinkanku, aku tersenyum, seketika itu Pak Uban langsung mengacak rambut dan menjabat tanganku erat… sebuah jabatan yang membuatku rindu dengan ayah di kampung sana ….
***
“Pak yang sudah selesai bagaimana? “ suara Silvy, mahasiswa paling cerewet di kelas mengaburkan lamunanku.
“ oh ya, waktunya sudah habis ya.. kuis hari ini selesai. Silakan dikumpulkan”.
Setelah semua mahasiswa mengumpulkan lembar kuis, mereka merapihkan meja lipat dan barang-barangnya. Beberapa mahasiswa lelaki mengambil tasnya yang di gantungkan di ranting-ranting pohon. Sementara Sinta, mahasiswa paling rajin dikelas, sibuk memunguti sampah-sampah kertas di sekitar pohon.
“sebelum ditutup ada yang mau ditanyakan? “ tanyaku sebelum menutup kuliah hari itu.
“ Saya Pak, tapi ga berkaitan dengan mata kuliah…” kata Silvy dengan antusias.
“ yah..ngga apa-apa.. yang penting pertanyaannya tidak macam-macam..”
“ mmm…… kenapa siy… Bapak suka ngajakin kita untuk kuliah di bawah pohon rindang seperti hari ini….” Tanya silvy dengan nada centil. Sementara mahasiswa lain gaduh menyorakinya.
Aku tersenyum. Pertanyaan yang bagus menurutku. Meskipun seratus kali pertanyaan tersebut terlontar, bibir ini tidak akan pernah lelah bercerita. Sebuah kisah yang telah mengantarkan ku menjadi dosen seperti sekarang ini. Satu panen yang pernah ku tanam di masa lalu.